(murti-churbby.blogspot.com)
Pencabutan gigi buat
semua orang bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Namun dalam kondisi
tertentu, khususnya bilamana gigi sudah mengalami kerusakan yang parah,
cabut gigi merupakan tindakan yang akan dilakukan oleh dokter gigi.
Setelah ekstraksi (pencabutan gigi), pasien secara umum dapat melakukan
kegiatan sehari-hari dengan normal. Namun dalam persentase kecil, ada
pasien yang mengalami nyeri yang amat sangat dan berkepanjangan di
lokasi bekas pencabutan yang dinamakan dengan ‘dry socket’.
‘Socket’ adalah lubang pada tulang bekas gigi yang dicabut. Setelah gigi dicabut, maka pada socket ini akan terbentuk penggumpalan darah (blood clot)
yang berfungsi untuk melindungi tulang dan syaraf yang ada di situ.
Selanjutnya gumpalan darah ini akan diganti oleh jaringan granulasi dan
pada akhirnya menjadi jaringan tulang. Pada kondisi-kondisi tertentu ‘socket’
ini gagal terlindungi oleh gumpalan darah, sehingga tulang pada lubang
pencabutan ini nampak kering. Dan inilah yang dinamakan ‘dry socket’.
Akibat ‘dry socket’
ini, tulang terpapar dengan udara, makanan, cairan, dan zat lain yang
masuk ke mulut. Kondisi ini menyebabkan peradangan pada tulang dengan
gejala rasa nyeri yang amat sangat (severe pain) dan bisa
menjalar sampai ke leher, telinga dan kepala. Rasa nyeri ini timbul 2-5
hari setelah pencabutan gigi. Gejala tambahan lainnya adalah timbulnya halitosis (mulut yang berbau). Dry socket
ini bukan disebabkan karena infeksi pada luka pencabutan, sehingga
pemberian antibiotika sebenarnya tidak diperlukan. Pada pemeriksaan
visual, tak nampak pembengkakan dan kemerahan sebagai petunjuk adanya
infeksi. Demam (fever) juga tidak ada.Yang nampak justru adalah lubang tulang yang kering.
Apa yang menyebabkan gumpalan darah (blood clot) gagal terbentuk di dalam socket
ini? Salah satu penyebab utamanya adalah merokok setelah pencabutan
gigi. Zat nikotin pada rokok dapat menyebabkan penyempitan pembuluh
darah kapiler (vasokonstriksi), sehingga gagal terjadinya gumpalan
darah. Demikian juga pada wanita yang memakai kontrasepsi oral, hormon
estrogen dapat menghambat terbentuknya gumpalan darah. Disarankan juga
agar pasien tidak berkumur-kumur, memakai sedotan minuman (straw),
banyak meludah atau menyedot-nyedot darahnya setelah pencabutan, karena
tindakan ini akan ’mencopot’ gumpalan darah yang sudah terbentuk pada socket tersebut.
Dry socket
ini lebih sering terjadi pada rahang bawah dibandingkan pada rahang
atas, karena suplai darah yang relatif lebih sedikit pada rahang bawah (mandible). Juga kecenderungan dry socket lebih sering terjadi pada gigi geraham bungsu (wisdom tooth)
yang kedudukannya miring. Gigi yang sebelumnya sudah bermasalah sebelum
dicabut, misalnya mengalami periodontitis (dengan gejala sangat sakit
bilamana disentuh atau diketuk dengan jari), juga mempunyai prevalensi
yang lebih tinggi mengalami dry socket. Wanita lebih sering
dibandingkan pria mengalaminya dan persentase kasus ini sekitar 2-5%
dari seluruh tindakan pencabutan ini.
Tindakan pengobatan untuk dry socket
ini adalah dengan pemberian obat penghilang rasa sakit golongan
nonsteroidal anti-inflammatory drug (NSAID) seperti ibuprofen. Juga
pasien disarankan untuk berkumur dengan air garam atau cairan kumur (mouthwash) lainnya. Dry socket dengan gejala rasa nyeri yang amat sangat ini dapat berlangsung antara 10 sampai 40 hari.
Semoga bermanfaat bagi sahabat all boncu... :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar